← Semua tulisan

Dari pelanggan setia jadi pemilik

Saya tidak pernah berencana punya coffee shop. Saya cuma suka ngopi di tempat yang sama, cukup sering, sampai akhirnya tempat itu jadi milik saya sendiri.

personalsecangkir

Tidak ada rencana besar di balik Secangkir. Saya cuma suka ngopi, dan kebetulan tempat langganan saya lokasinya dekat sekali dengan kantor pusat — jadi hampir tiap hari saya mampir, tanpa berpikir dua kali. Pemiliknya teman saya sendiri.

Sampai suatu waktu, sekitar dua tahun lalu, dia menawarkan saya untuk menyewa tempat itu. Bukan tawaran besar, bukan pula sesuatu yang saya kejar. Tapi karena sudah kenal tempatnya luar dalam sebagai pelanggan, rasanya masuk akal untuk coba kelola sendiri.

Dari sewa ke milik sendiri

Selama dua tahun itu saya jalani sebagai penyewa — bisnis tetap jalan, tapi statusnya belum sepenuhnya milik saya. Baru tahun ini teman saya benar-benar melepasnya, dan Secangkir jadi milik saya seutuhnya.

Begitu itu terjadi, pola lama saya muncul lagi: saya bangun sistem kasirnya sendiri. Sama seperti hampir semua sistem internal MAHADEWA ID, Secangkir sekarang punya aplikasi kasir buatan sendiri — bukan karena butuh sesuatu yang canggih, tapi karena saya sudah terbiasa membangun apa yang saya butuhkan sendiri, sekecil apa pun skalanya.

Sekarang, istri saya yang pegang

Hari-hari operasionalnya sekarang dipegang penuh istri saya. Saya lebih banyak mengecek dari jauh — laporan, kas, kadang ikut memikirkan sistemnya — sementara yang benar-benar menjalankan tempatnya, mengurus tim, dan memastikan semuanya jalan tiap hari, itu dia.

Saya masih suka mampir, tentu saja. Tapi rasanya pas: saya yang dulu cuma pelanggan setia, sekarang jadi orang yang membangun sistem di baliknya, dan istri saya yang benar-benar menghidupkan tempatnya setiap hari.