Yang mengajukan tidak boleh menyetujui sendiri
Waktu saya minta peta semua proses persetujuan di SATU, yang ketemu bukan fitur yang hilang — tapi satu aturan sederhana yang ternyata hampir tidak dijaga di mana-mana.
Tulisan
Hal-hal yang saya pelajari sambil menjalankan perusahaan dan membangun sistemnya. Ditulis apa adanya, termasuk yang gagal.
Waktu saya minta peta semua proses persetujuan di SATU, yang ketemu bukan fitur yang hilang — tapi satu aturan sederhana yang ternyata hampir tidak dijaga di mana-mana.
SIMAK, satu-satunya sistem lama yang belum berani saya cabut, akhirnya ikut dimatikan malam ini — dan di tengah beres-beres itu saya baru sadar ada jalur masuk ke salah satu sistem lama saya yang seharusnya sudah lama ditutup.
Saya tidak pernah berencana punya coffee shop. Saya cuma suka ngopi di tempat yang sama, cukup sering, sampai akhirnya tempat itu jadi milik saya sendiri.
Sepuluh hari terakhir kali ini bukan cerita soal sistem baru yang menyala, tapi soal sistem lama yang mulai saya matikan satu per satu — dan apa yang baru kelihatan setelah itu terjadi.
Sepuluh hari lalu saya menulis enam sistem berjalan. Sembilan hari kemudian, tiga sistem lagi menyusul — dan satu di antaranya nyaris membuat saya percaya angka yang salah.
Enam sistem internal, enam kali login berbeda setiap hari. Hari ini saya menutup celah itu — dan menemukan satu bug keamanan lama yang sudah lebih dulu hidup diam-diam di salah satu sistemnya.
Enam sistem berjalan dalam sepuluh hari, dan masalah baru muncul: tidak ada satu tempat yang tahu semuanya. Hari ini saya membereskannya dengan cara yang ternyata sudah tua sekali — menulis dokumentasi.
Selama bertahun-tahun setiap kebutuhan sistem internal berakhir di dua pilihan: beli yang tidak pas, atau bayar vendor dan menunggu. Bulan ini saya mencoba jalan ketiga.
Dua puluh tahun menjalankan bisnis IT, dan hampir tidak ada satu pun pelajarannya yang saya tuliskan. Ini upaya memperbaiki itu.