Otak untuk enam belas folder
Enam sistem berjalan dalam sepuluh hari, dan masalah baru muncul: tidak ada satu tempat yang tahu semuanya. Hari ini saya membereskannya dengan cara yang ternyata sudah tua sekali — menulis dokumentasi.
Setelah enam sistem berjalan, saya menemukan masalah yang tidak saya duga bentuknya: bukan membangun, tapi mengingat.
Di folder Documents komputer saya sekarang ada enam belas folder proyek. Sistem aset, penggajian, KPI, event, dua versi kasir coffee shop, portal direksi, situs ini, ditambah folder-folder dokumen dan beberapa yang masih kosong menunggu giliran. Masing-masing punya keputusan desainnya sendiri, jebakannya sendiri, dan riwayatnya sendiri.
Yang tahu semuanya cuma satu: kepala saya. Dan itu persis masalah yang membuat saya mulai menulis di situs ini.
Asisten yang selalu lupa
Ada satu sifat alat AI yang jarang dibicarakan: dia tidak punya ingatan antarsesi. Setiap kali saya membuka percakapan baru untuk mengerjakan satu proyek, dia mulai dari nol. Proyek mana yang masih dipakai dan mana yang sudah ditinggalkan, kenapa kasir coffee shop ada dua folder, server mana yang melayani apa — semua harus dijelaskan ulang, atau dia meraba-raba sendiri.
Meraba-raba itu yang berbahaya. Asisten yang tidak tahu bahwa satu file konfigurasi di server di-bind mount per-berkas bisa dengan percaya diri menyarankan perintah yang membuat enam domain mati sekaligus. Bukan karena bodoh — karena tidak ada yang memberitahunya.
Jawabannya membosankan: dokumentasi
Hari ini saya membereskannya, dan solusinya sama sekali tidak canggih. Setiap proyek sekarang punya README yang menjelaskan apa dia, teknologinya apa, statusnya sampai mana, dan pekerjaan apa yang masih menggantung. Lalu di folder induknya ada satu berkas indeks — peta semua proyek, konvensi kerja saya, dan catatan infrastruktur yang paling sering bikin celaka.
Yang menarik bukan berkasnya, tapi siapa pembacanya. Berkas indeks itu bernama
CLAUDE.md, dan alat AI yang saya pakai membacanya otomatis setiap kali
dibuka di folder mana pun di bawahnya. Artinya mulai hari ini, setiap sesi
kerja baru langsung tahu peta besarnya tanpa saya jelaskan ulang sepatah kata
pun.
Dokumentasi yang dulu saya tulis untuk orang lain — dan karena itu selalu kalah prioritas — sekarang punya pembaca kedua yang memakainya setiap hari: mesin yang membantu saya bekerja. Insentifnya jadi terbalik. Menulis dokumentasi bukan lagi pekerjaan sosial yang mulia tapi bisa ditunda; dia langsung mengembalikan waktu saya di sesi berikutnya.
Aturan yang sama untuk manusia dan mesin
Satu hal saya pertahankan keras-keras dari cara kerja lama: jangan mengarang fakta. Saat dokumentasi ini disusun, ada satu bagian yang datanya memang tidak ada di folder — dari mana persisnya laporan servis diekspor. Bagian itu tidak diisi dengan tebakan yang terdengar meyakinkan; dia ditandai kosong, menunggu saya isi sendiri.
Kedengarannya sepele. Tapi menurut saya di situlah bedanya dokumentasi yang bisa dipercaya dengan yang sekadar ada. Berkas yang sembilan puluh persen benar dan sepuluh persennya karangan lebih berbahaya daripada berkas yang jujur bilang “bagian ini belum diketahui” — karena Anda tidak pernah tahu sepuluh persennya yang mana.
Dua puluh tahun saya menunda menulis dokumentasi perusahaan. Ternyata yang akhirnya memaksa saya melakukannya bukan auditor, bukan konsultan — tapi asisten yang selalu lupa.