← Semua tulisan

Yang pertama kali saya matikan

Sepuluh hari terakhir kali ini bukan cerita soal sistem baru yang menyala, tapi soal sistem lama yang mulai saya matikan satu per satu — dan apa yang baru kelihatan setelah itu terjadi.

aiteknologioperasional

Dua tulisan terakhir saya isinya sama: sistem baru menyala. Enam sistem dalam sepuluh hari, lalu tiga sistem lagi sembilan hari sesudahnya. Polanya selalu bertambah.

Sepuluh hari terakhir ini polanya beda. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar mematikan sesuatu.

Yang saya matikan duluan

Sistem KPI tujuh departemen yang saya bangun bulan lalu — dev-hris-starter namanya di folder saya — saya matikan containernya di server 5 September. Bukan dihapus datanya, cuma dimatikan jalannya, karena fungsinya sudah menyatu penuh ke HRIS Mahadewa ID yang baru saja rebrand beberapa hari sebelumnya.

Kedengarannya sepele. Tapi ini pertama kalinya, dari semua sistem yang saya bangun tahun ini, saya benar-benar bilang “yang ini sudah tidak perlu jalan sendiri lagi” — bukan menambah folder baru, tapi menutup salah satu yang lama.

Tiga domain pindah rumah sekaligus

Dua hari setelah itu saya melangkah lebih jauh: tiga domain produksi yang sudah dipakai sehari-hari — HRIS, Dev Produk, ASP-Mahadewa — saya arahkan langsung ke SATU, aplikasi unifikasi yang sedang saya bangun sejak awal bulan. Bukan lagi jalan paralel diam-diam di belakang layar, tapi jadi uji coba nyata: siapa pun yang buka domain itu hari ini, otomatis masuk ke SATU.

Aplikasi lamanya masih saya biarkan hidup di belakang, jaga-jaga. Tapi keputusan sudah jelas arahnya — dan minggu itu saya juga akhirnya bilang terus terang soal SIMAK, sistem aset dan kas yang jadi rumah pertama Caddy bersama saya: sistem itu akan dimatikan juga, cepat atau lambat, digantikan SATU sepenuhnya. Belum ada tanggalnya. Tapi arahnya sudah tidak bisa saya sangkal lagi.

Yang baru kelihatan setelah orang pindah beneran

Begitu tiga sistem itu benar-benar dipakai dari rumah barunya, muncul masalah yang tidak kelihatan waktu masih di rancangan: ada cabang yang tidak punya Kepala Toko sama sekali, tapi ada karyawan lain — marketing, kasir senior — yang selama ini sebenarnya sudah memegang peran itu tanpa gelarnya. Sistem lama tidak pernah memaksa saya menjawab pertanyaan itu, karena semuanya diatur manual, orang per orang.

SATU memaksa saya menjawabnya, karena aksesnya sekarang ditentukan dari satu sumber: jabatan resmi di Database Karyawan. Jadi lahirlah “PJ Cabang” — satu orang bisa ditunjuk memegang akses Kepala Toko tanpa harus mengubah jabatan HR aslinya. Bukan fitur yang saya rencanakan dari awal. Muncul karena data nyata memaksa saya.

Yang belum selesai

SIMAK masih hidup dan masih dipakai — saya belum berani cabut sepenuhnya sebelum yakin semua orang yang biasa pakai itu benar-benar nyaman pindah. Absensi juga baru tahap awal: saya mulai membangun versi saya sendiri di dalam SATU — jadwal, absen lewat HP, lokasi, foto — tapi masih sebatas dicoba di dalam, belum saya putuskan menggantikan sistem absensi yang sekarang, yang jalan di server orang lain yang tidak sepenuhnya saya kuasai.

Kalau tulisan-tulisan sebelumnya soal seberapa cepat sesuatu bisa dibangun, tulisan ini soal seberapa berat memutuskan mematikan sesuatu yang sudah jalan bertahun-tahun. Ternyata bagian itu yang lebih pelan.